Mengenal 10 Prajurit Keraton Yogyakarta, Bagian Pertama

Jogjania | 07 April 2017 | #Serba - Serbi

Prajurit Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah alat pertahanan dan keamanan wilayah Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, yang terbagi atas beberapa kesatuan (bregada/brigade). Mereka merupakan tentara yang dahulunya dipakai sebagai angkatan perang, namun kini bregada-bregada prajurit Keraton ini hanya tampil dalam acara tertentu, dengan urutan dan formasi tertentu sesuai peran dan fungsi masing-masing, sebagaimana yang ditampilkan pada upacara Garebeg setiap tahunnya. Saat ini terdapat 10 bregada prajurit, yaitu : Prajurit Wirobrojo, Prajurit Dhaheng, Prajurit Patangpuluh, Prajurit Jogokaryo, Prajurit Prawirotomo, Prajurit Ketanggung, Prajurit Mantrijero, Prajurit Nyutro, Prajurit Bugis dan Prajurit Surokarso. Setiap bregada dipimpin oleh seorang perwira berpangkat Kapten, didampingi oleh seorang perwira berpangkat Panji, yang bertugas untuk mengatur dan memerintah keseluruhan prajurit dalam bregada. Pucuk pimpinan tertinggi keseluruhan bregada prajurit Keraton adalah seorang Manggalayudha. Ini dia 5 dari 10 nama prajurit Keraton Yogyakarta.

Prajurit Wirobrojo

Pada masa penjajahan prajurit wirobrojo berada digaris depan dalam setiap pertempuran, dan saat inipun dalam upacara upacara yang diadakan keraton Yogyakarta seperti upacara gerebeg, Prajurit Wirobrojo berada paling depan dalam urutan defile. Saat ini nama tersebut menjadi nama sebuah kampung dengan sebutan Wirobrajan. Nama Wirobrojo berasal dari kata Wiro dan brojo, yang berasal dari bahasa sansekerta. Kata Wiro berarti berani dan Brojo berarti tajam. Secara filosofi kata tersebut berarti bahwa prajurit wirobrojo berani dalam melawan musuh dan tajam serta peka panca inderanya. Kesatuan Wirobrojo ini juga dikenal dengan sebutan prajurit lombok abang, dikarena pakaian yang dikenakan semuanya didominasi warna merah menyala.

Prajurit Dhaeng

Nama prajurit Dhaeng berasal dari bahasa makasar sebagai gelar bangsawan di Makasar, Sulawesi, secara filosofi berarti prajurit elit yang gagah berani. Prajurit ini sebenarnya merupakan prajurit yang didatangkan dari Makasar yang pada jaman dulu untuk mengatasi permasalahan di Mataram. Prajurit Dhaeng terdiri dari 4 perwira dengan pangkat panji, 8 bintara dengan pangkat sersan, 72 prajurit serta 1 pembawa duaja yang bernama Kanjeng Kyai Jatimulyo atau Doyok. Seragam Prajurit Dhaeng terdiri atas topi hitam pakai cundhuk, destar wulung, jas putih setrip merah, lonthong biru, kamus hitam, celana panjang setrip merah, kaos kaki hitam, sepatu fantopel. Tempat tinggal para prajurit Dhaeng saat ini dinamakan waktu itu saat ini menjadi nama kampung Dhaengan yang berada di sebelah barat daya keraton Yogyakarta.

Prajurit Patang Puluh

Prajurit Patangpuluh terkenal dengan keberaniannya dan juga ketangguhannya saat di medan pertempuran, sehingga keberadaan prajurit Patangpuluh ini menjadi andalan saat bertempur. Pada acara gerebeg yang dilaksanakan keraton Yogyakarta, prajurit ini berada di urutan ketiga dalam defile. Bendera yang menjadi panji panji prajurit patangpuluh dinamakan Cokrogora berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam ditengahnya terdapat bintang segi enam berwarna merah. Cakragora berasal dari bahasa sansekerta cakra yang berarti senjata yang berbentuk gerigi dan gora yang berarti dahsyat atau menakutkan. Secara filosofi berarti prajurit yang mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa sehingga semua musuh seperti apapaun dapat dikalahkan. Bekas wilayah markas prajurit Patangpuluh saat ini sebagai sebuah kampung dengan nama Patangpuluhan.

Prajurit Jogokaryo

Prajurit Jogokaryo merupakan barisan nomor empat dalam defile. Jagakaryo berasal dari kata Jaga dan Karyo, Jaga yang diambil dari bahasa sansekerta berarti menjaga sedangkan karyo berasal dari bahasa kawi yang berarti tugas atau pekerjaan. Secara filosofi keberadaan prajurit Jagakaryo merupakan pasukan yang mengemban tugas untuk menjaga serta mengamankan jalannya pelaksanaan pemerintahan didalam kerajaan. Panji panji atau bendera prajurit Jagakaryo adalah papasan. Bendera ini berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar merah dan pada bagian tengahnya berupa lingkaran warna hijau. Secara filosofi papasan mempunyai makna bahwa prajurit Jogokaryo merupakan pasukan pemberani yang dapat menghancurkan musuh dengan semangat yang teguh. Nama Jagakaryo kemudian dipakai nama sebuah perkampungan yang dinamakan Jogokaryan, letaknya di sebelah selatan keraton Yogyakarta sebelum Panggung Krapyak.

Prajurit Prawirotomo

Prajurit Prawirotomo merupakan prajurit yang memiliki kelebihan dibanding dengan prajurit lainnya, hal ini tak lepas dari asal keberadaan prajurit tersebut yakni dari 1000 orang anggota laskar Mataram yang membantu pangeran Mangkubumi untuk melawan penjajah. Kata prawirotomo merupakan asal kata dari Prawira dan tama, dalam bahasa kawai prawira berarti berani / perwira / prajurit sedangkan tomo atau utomo dalah bahasa sansekerta mengandung arti utama/ lebih sedang dalam bahasa kawi berarti Ahli atau pandai. Secara filosofi keberadaan prajurit ini diharapakan menjadi sebuah pasukan yang pemberani dan pandai dalam setiap tindakan, selalu bijak dalam suasana perang. Keberadaan nama prajurit tersebut dipakai sebagai nama sebuah nama kampung yakni Prawirotaman