Mengenal 10 Prajurit Keraton Yogyakarta, Bagian Kedua

Jogjania | 10 April 2017 | #Serba - Serbi

Jika di tulisan sebelumnya kita sudah membahas 5 prajurit keraton, maka di artikel kali ini kita akan membahas 5 prajurit lainnya. Prajurit atau Bregodo dari keraton sebenarnya hanya ada 8, namun ada tambahan satu dari prajurit yang datang merantau kemudian satu lagi dari kepatihan sehingga total ada 10.

Untuk menjadi prajurit ada syarat tertentu, fisik harus kuat, bisa berbaris, dan membuat surat lamaran. Setiap pasukan harus bisa memakai seragam sendiri dan harus hafal urutan setiap pasukannya. Selain itu, pada setiap bregodo juga mempunyai satu lagu untuk jalan cepat (march) dan satu lagu jalan lambat (macak). Pada setiap bregodo biasanya ada 50 orang dan semua pasukan turun ketika hari-hari besar seperti Idul Fitri, Adha, dan Maulud Nabi Muhammad SAW.

Prajurit Ketanggung

Nama Ketanggung berasal kata dasar "tanggung" mendapatkan awalan ke-. Kata "tanggung" berarti beban. Sedangkan ke- di sini sebagai penyangatan atau sangat. Secara filosofis Ketanggung bermakna pasukan dengan tanggung jawab yang sangat berat. Panji-panji/bendera prajurit Ketanggung adalah Cakra-swandana, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya adalah gambar bintang bersegi enam dengan warna putih. Cakra-swandana berasal dari bahasa Sansekerta cakra (senjata berbentuk roda bergerigi) dan kata Kawi "swandana" yang berarti kendaraan/kereta. Secara filosofis Ketanggung bermakna pasukan yang membawa senjata cakra yang dahsyat yang akan membuat porak poranda musuh. Keberadaan nama prajurit tersebut kini menjadi nama kampung Ketanggungan.

Prajurit Nyutra

Nama Nyutra berasal kata dasar sutra mendapatkan awalan N. Kata sutra dalam bahasa Kawi berarti unggul, sedang dalam bahasa Jawa Baru berarti bahan kain yang halus. Awalan N- berarti tindakan aktif sehubungan dengan sutra. Prajurit Nyutra merupakan prajurit pengawal pribadi Sri Sultan. Prajurit ini merupakan kesayangan raja dan selalu dekat dengan raja. Secara filosofis Nyutra bermakna pasukan yang halus seperti halusnya sutera yang menjaga mendampingi keamanan raja, tetapi mempunyai ketajaman rasa dan ketrampilan yang unggul. Itulah sebabnya prajurit Nyutra ini mempunyai persenjataan yang lengkap (tombak, towok dan tameng, senapan serta panah/jemparing). Sebelum masa Hamengku Buwono IX, anggota Prajurit Nyutra diwajibkan harus bisa menari. Keberadaan nama prajurit tersebut kini menjadi nama kampung Nyutran.

Prajurit Mantrijero

Nama Mantrijero berasal kata "mantri" dan "jero". Kata "mantri" berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti juru bicara, menteri, jabatan di atas bupati dan memiliki wewenang dalam salah satu struktur pemerintahan'. Sedangkan "jero" berarti dalam. Secara harfiah kata Mantrijero berarti juru bicara atau menteri di dalam dan secara filosofis Mantrijero bermakna pasukan yang mempunyai wewenang ikut ambil bagian dalam memutuskan segala sesuatu hal dalam lingkungan Kraton (pemutus perkara).Keberadaan nama prajurit tersebut menjadi nama kampung Mantrijeron.

Prajurit Bugis

Nama Bugis berasal kata bahasa Bugis. Prajurit Bugis sebelum masa Hamengku Buwono IX bertugas di Kepatihan sebagai pengawal Pepatih Dalem. Semenjak zaman Hamengku Buwono IX ditarik menjadi satu dengan prajurit kraton, dan dalam upacara Garebeg bertugas sebagai pengawal gunungan. Secara filosofis Prajurit Bugis bermakna pasukan yang kuat, seperti sejarah awal mula yang berasal dari Bugis, Sulawesi. Pasukan ini diharapkan selalu memberikan penerangan dalam kegelapan, ibarat berfungsi seperti munculnya bulan dalam malam yang gelap yang menggantikan fungsi matahari.Keberadaan nama prajurit tersebut kini menjadi nama kampung Bugisan.

Prajurit Surakarsa

Nama Surakarsa berasal dari kata sura dan karsa. Kata "sura" berasal dan bahasa Sansekerta berarti berani, sedangkan "karsa" berarti kehendak. Dahulu Prajurit Surakarsa bertugas sebagai pengawal Pangeran Adipati Anom / Putra Mahkota, bukan bagian dari kesatuan prajurit kraton. Secara filosofis Surakarsa bermakna pasukan yang pemberani dengan tujuan selalu menjaga keselamatan putra mahkota. Sejak masa Hamengku Buwono IX, pasukan ini dijadikan satu dengan prajurit kraton dan dalam upacara Garebeg mendapat tugas mengawal Gunungan pada bagian belakang.