5 Masjid-Masjid yang Bersejarah di Jogja

Inna | 05 April 2016 | #Wisata

Ketika pertama kali mendengar kata Jogja, maka yang terlintas adalah mengenai budaya yang masih kental di Jogja. Tidak hanya itu, berbagai jajaran pantai yang cantik sepanjang pantai selatan juga saying untuk dilewatkan. Apalagi ditambah dengan berbelanja asik dan murah di jalan malioboro. Tetapi, tidak hanya itu yang bisa dikenal di Jogja. Jogja juga dikenal sebagai pusat perkembangan agama Islam. Sehingga tidak heran, banyak masjid-masjid bersejarah yang menyimpan berbagai cerita dari kejadian di masa lampau. Berbagai peristiwa yang terjadi pada masa lampau juga terangkum dalam bangunan masjid. Sehingga saying sekali apabila melewatkan untuk mengunjungi berbagai masjid bersejarah ini saat berkunjung ke Jogja. Berikut 5 daftar masjid tua yang bersejarah di Jogja.

Masjid Jami Sulthoni Plosokuning

Selain dikenal sebagai Majid Jami Sulthoni Plosokuning, masjid ini juga disebut sebagai masjid Pathok Negara. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua yang dimiliki oleh Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Masjid ini terletak di jalan Plosokuning Raya Desa Minomartani, kecamatan Ngaglik Sleman. Usia dari masjid ini tidak tanggung-tanggung yaitu sudah lebih dari 200 tahun. Awal pendirian masjid dimulai dari abad 19 M ketika Sultan Hamengku Buwono bertahta. Bangunan dari masjid ini cukup menarik, masjid ini didirikan di empat penjuru angina yang memiliki filosofis sebagai benteng perlindungan rohani kraton. Saat ini masjid ini sudah ditetapkan sebagai benda vagar budaya oleh pemerintah.

Masjid Kotagede

Masjid Kotagede sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Jogja. Masjid ini terletak di Kotagede dan usianya lebih tua dari masjid Agung Kauman. Masjid ini sudah berdiri dari tahun 1640 an. Ornament serta semua perangkat yang ada dalam masjid cukup unik dan menarik, salah satunya adalah bedug yang terdapat dalam masjid yang sudah berusia ratusan tahun. Dua pohon beringin akan menyambut di pelataran masjid saat kita berkunjung ke masjid ini dan dimanfaatkan sebagai tempat parkir. Beberapa barang dan perangkat yang ada dalam masjid masih asli dari awal berdirinya masjid, sehingga masjid ini masih memiliki kesan klasik pada bangunannya.

Masjid Syuhada

Masjid Syuhada terletak di Kotabaru, Daerah Istimewa Yogyakarta, dibangun pada tanggal 20 September 1952 dan merupakan masjid pemberian dari Presiden Soekarno kepada para pejuang yang sudah bertempur di Jogja. Oleh karena itu, masjid ini diberi nama Syuhada (pahlawan). Simbol nasionalisme tercermin dari masjid ini, yaitu diantaranya adalah 17 anak tangga, gapura masjid yang berbentuk segi delapan, kubah pertama yang berjumlah 4 buah dan kubah atas yang berjumlah 5. Sejak tahun 2002 masjid Syuhada sudah ditunjuk sebagai benda cagar budaya Jogja dan menjadi tempat wisata religious. Kegiatan yang dilakukan di dalam masjid juga beragam, mulai dari pendidikan hingga dakwah dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Masjid Gede Kauman

Masjid Gede dibangun sejak masa Sri Sultan Hamengkubuwono pertama pada tahun 1773. Masjid ini merupakan masjid Raya dari Prov DIY dan merupakan benda cagar budaya. Pada awal pembangunannya, masjid ini didirikan sebagai tempat ibadah bagi keluarga raja dan rakyatnya juga sebagai simbol identitas kerajaan Islam. Serambi yang terdapat pada Masjid Gede difungsikan sebagai “Almahkamah Al Kabiroh” yang berarti lokasi pertemuan semua alim ulama, lokasi tempat pengajian dan dakwah serta tempat pengadilan agama. Pada halaman luar masjid bagian utara dan selatan terdapat bangunan yang disebut dengan pagongan (tempat gamelan). Setiap bulan mauled, gamelan tersebut dimainkan dan digunakan untuk menarik minat masyarakat Jawa agar menggemari music tradisional, tidak hanya itu, pertunjukkan gamelan tersebut juga disisipi berbagai dakwah yang dilakukan oleh ulama.

Masjid Pakualaman

Masjid ini merupakan salah satu benda cagar budaya Jogja yang dibangun oleh Paku Alam II pada abad XIX. Letaknya berada di luar kompleks Puro sebelah barat laut alun-alun Sewandanan. Terdapat prasasti pada sebelah utara masjid yang menunjukkan tahun Jawa 1767 (1839 M), dan terdapat pula prasasti lain di sebelah selatan yang menunjukkan tahun Jawa 1783 (1855 M). sampai saat ini masih diperdebatkan mana yang merupakan awal tahun pendirian masjid tersebut.